Mengenal QGIS

Quantum Geographic Information System (QGIS) merupakan salah satu perangkat lunak open source yang dapat digunakan untuk pengelolaan data spasial dan pengembangan aplikasi sistem informasi geografi. Geographical Information System (GIS) sendiri ialah sistem informasi khusus terkait pengelola data dengan referensi spasial (keruangan).

Menurut Bambang Hendro Trisasongko, Ph.D., dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB University, QGIS merupakan software open access yang mirip dengan ArcGIS, di mana keduanya dirancang untuk menganalisis data spasial. Meski demikian, QGIS memiliki beberapa keunggulan dibandingkan ArcGIS, yaitu

  1. dapat membuka banyak jenis data spasial tanpa konversi;
  2. tampilan QGIS lebih sederhana dan ramah terhadap pengguna (user friendly);
  3. tidak membutuhkan lisensi khusus dan bersifat open source;
  4. dukungan yang kuat pada analisis citra penginderaan jauh (remote sensing) melalui berbagai paket plug-ins; dan
  5. dukungan terhadap data publik yang berada di cloud.

Untuk mendapatkan aplikasi QGIS, pengguna hanya perlu mengunjungi website QGIS secara langsung (https://www.qgis.org), kemudian mengunduh aplikasi tersebut. Aplikasi QGIS memiliki sifat pengembangan terbuka sehingga aplikasi QGIS ini dapat digunakan oleh siapa pun yang ingin melakukan analisis data spasial, baik data vektor maupun raster.

Baca juga: Pemodelan Hidrologi dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Pemetaan perkebunan

Analisis terhadap lahan perkebunan dilakukan untuk menetapkan berbagai kebijakan yang dibutuhkan dalam pengelolaan sebuah perkebunan. Salah satu aspek penting dalam melakukan analisis data perkebunan adalah tersedianya data yang valid. Dengan kemajuan teknologi saat ini data perkebunan dapat dikumpulkan dengan relatif lebih mudah menggunakan prinsip pemetaan lahan perkebunan memanfaatkan teknologi pencitraan satelit maupun menggunakan drone.

drone

Fungsi pemetaan di perkebunan diantaranya adalah:

  1. digunakan untuk membantu mengelola sumber daya pertanian dan perkebunan dalam konteks yang lebih luas, seperti perencanaan wilayah (kabupaten atau provinsi);
  2. menduga periode panen, mengembangkan sistem rotasi tanam, dan melakukan analisis dampak terhadap lingkungan sekitar; dan
  3. sebagai sumber informasi yang berguna untuk bidang terkait, seperti pengelolaan kawasan konservasi.

QGIS untuk pemetaan perkebunan

Pada dasarnya tidak diperlukan kemampuan khusus dalam mempelajari penggunaan QGIS. Hal tersebut karena software QGIS dapat dipelajari secara mandiri (autodidak) melalui berbagai buku atau informasi daring yang tersedia.

“Kendala teknis operasionalisasi QGIS tidaklah terlalu besar; hanya saja banyak orang yang salah persepsi di awalnya. Banyak orang menganggap penggunaan aplikasi QGIS akan dominan berkutat dengan komputer dan teknologi. Hal tersebut memunculkan anggapan hanya orang dengan latar belakang ilmu komputer saja yang dapat memanfaatkannya. Nah, itulah yang salah persepsi,” jelas Bambang Hendro Trisasongko, Ph.D.

Meskipun demikian, dalam implementasi penggunaan QGIS untuk pemetaan sangat disarankan agar penggunanya memiliki latar belakang keilmuan yang sesuai dengan objek yang dianalisis. Hal tersebut menjadi penting karena efektivitas penggunaan QGIS akan tergantung dari bidang yang dianalisisnya. Sebagai contoh pemanfaatan QGIS secara optimal di bidang perkebunan akan membutuhkan personel dengan latar belakang bidang pertanian atau kehutanan.

Menurut Bahri et.al. (2020), langkah-langkah dalam pemetaan menggunakan QGIS adalah sebagai berikut:

  1. digitasi peta dalam bentuk poligon, garis atau titik, atau dengan mengunduh data dari cloud sebagai data awal;
  2. georeferensi data spasial menggunakan satu sistem tunggal, umumnya dalam sistem koordinat bumi (lintang-bujur) atau bidang datar (seperti UTM);
  3. analisis data spasial yang sangat bervariasi, tergantung aplikasi dan tujuan yang ingin dicapai.

“Langkah-langkah operasional tidak terlalu mengkhawatirkan. Belajar selama 2–3 tahun sudah bisa lancar. Penting di sini untuk diingat bahwa target aplikasi itu harus cocok dengan latar belakangnya. Jadi, kalau target aplikasinya adalah membangun sistem cerdas atau smart system untuk perkebunan, maka harusnya (personel) yang memiliki latar belakang pertanian yang harus mengembangkannya,” ungkap Bambang Hendro Trisasongko, Ph.D. (Indri Mariska/Korpus IPB)

Tertarik mengikuti perlatihan terkait pemetaan wilayah? kunjungi:

  1. Online Course Pemetaan Wilayah Perkebunan Menggunakan Aplikasi QGIS – Basic 14–16 September 2021
  2. Implementasi dan Aplikasi Teknologi Drone untuk Pemetaan 16–18 November 2021

Pustaka:

Bahri S, Midyanti DM, Hidayati R. 2020. Pemanfaatan QGIS untuk pemetaan fasilitas layanan masyarakat di Kota Pontianak. Journal of Computer Engineering System and Science. 5(1): 70–78. [diakses 22 Agu 2021]. doi: 10.24114/cess.v5i1.15666.

Gambar:

  1. IAPPS
  2. Jason Blackeye