Diagnosis kebuntingan sapi

Kebuntingan hewan ternak menjadi salah satu proses yang krusial dalam bidang peternakan. Hal tersebut memberikan pertanda baik bagi keberlanjutan usaha peternakan. Namun pada prakteknya, kebuntingan bisa saja mengalami serangkaian masalah yang dapat berujung pada kegagalan yang merugikan. Maka dari itu untuk meminimalisir resiko kegagalan dalam proses kebuntingan hewan ternak, kondisi janin (fetus) ternak perlu diamati dan diperiksa secara berkala. Proses pengamatan ini disebut dengan diagnosis kebuntingan.

Diagnosis kebuntingan pada sapi dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satu cara yang paling mudah dan murah adalah palpasi rektal. Palpasi rektal dilakukan dengan memasukkan tangan yang dilapisi sarung tangan ke dalam rektum sapi. Tujuan dari teknik ini adalah merasakan perubahan-perubahan yang terjadi pada organ reproduksi. Berdasarkan protokol nasional, metode ini aman dilakukan saat usia kebuntingan mencapai 2 bulan. Selain palpasi rektal terdapat cara lain yang lebih cepat dan mudah, yakni menggunakan test pack. Cara ini dapat dilakukan dalam waktu kurang dari satu bulan setelah perkawinan dengan cara mendeteksi metabolit sapi.

Kedua cara tersebut masih belum dapat mendiagnosis kebuntingan secara akurat karena hanya mengandalkan indra peraba dan metabolit. Karenanya dibutuhkan metode lain yang dapat menjamin hasil diagnosis yang lebih cepat, tepat, dan akurat. Sejalan dengan perkembangan teknologi, kini teknologi ultrasonografi hadir sebagai salah satu solusi atas permasalahan tersebut.

Teknologi ultrasonografi (USG)

Teknologi ultrasonografi (USG) adalah salah satu cara mendiagnosis kebuntingan dengan memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi sangat tinggi atau biasa disebut dengan ultrasound. Dr. drh. Mokhamad Fakhrul Ulum, dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, menjelaskan bahwa teknologi USG terdiri dari tiga bagian, yaitu transduser (probe), monitor USG, dan mesin USG. Gelombang ultrasound akan dipancarkan oleh mesin USG lewat probe. Ketika energi gelombang suara membentur jaringan tubuh seperti fetus yang ada dalam rahim, gelombang akan dipantulkan dan ditangkap kembali oleh probe yang juga berperan sebagai sensor. Selanjutnya, pantulan akan diterjemahkan sebagai gambar hitam putih yang dapat dilihat melalui monitor.

ultrasonografi

Menurut drh Ulum, USG menghasilkan diagnosis yang lebih definitif. Hal ini karena fetus dapat diamati langsung secara visual. Beliau juga menjelaskan bahwa gambar fetus yang dihasilkan oleh USG akan terlihat dalam tiga warna. Pertama, jaringan yang berisi cairan akan dilewati gelombang suara dengan tanpa hambatan, sehingga tidak ada gelombang yang dipantulkan dan jaringan tersebut akan terlihat sebagai warna hitam. Kedua, udara dan jaringan yang keras seperti tulang akan berwarna semakin putih. Gelombang ultrasound tidak dapat menembusnya dan akan dipantulkan dengan sempurna sehingga dapat terlihat jelas. Terakhir, jaringan yang sifatnya di antara keras dan cair akan terlihat dengan warna abu-abu.

Lewat informasi tersebut, tenaga medis dapat mengobservasi perubahan serta perkembangan pada janin (fetus) seperti denyut jantung, pergerakan, jumlah hingga kondisi abnormalitas. Data-data tersebut dapat digunakan untuk menganalisis kondisi kesehatan sapi dan janinnya.  Informasi yang diperoleh akan menjadi dasar bagi pemeliharaan sapi dan menjadi bahan penilaian untuk melakukan tindakan yang tepat. Sebagai informasi tambahan, diagnosis menggunakan USG sudah dapat dilakukan pada awal usia kebuntingan sapi, yaitu sekitar 10—14 hari dan dilakukan berulang kali selama 9 bulan.

Baca juga: Teknologi Pencitraan pada Layanan Kesehatan Hewan

Keunggulan teknologi ultrasonografi

Jika dibandingkan dengan palpasi rektal, USG dianggap lebih aman, cepat, dan akurat untuk digunakan. Meskipun mudah dan murah, palpasi secara rektal dapat beresiko melukai sapi dan fetusnya pada saat pemeriksaan. Selain itu, karena hanya mengandalkan indra peraba, palpasi rektal memiliki keterbatasan dalam mencari informasi status kehidupan fetus pada usia dini, jumlah fetus dan jenis kelamin. Di sisi lain palpasi rektal tidak dapat menggambarkan dengan baik kondisi abnormal pada sapi yang mirip dengan kondisi kebuntingan. Sebagai contoh, pembesaran ukuran rahim akibat peradangan rahim karena berisi nanah atau cairan seperti darah ataupun lendir. Selain itu, terdapat neoplasia yaitu pertumbuhan sel secara abnormal yang dapat menjadi kanker dengan gejala yang menyerupai induk bunting. Melalui teknologi USG, masalah-masalah tersebut dapat diatasi. Kondisi abnormal pada fetus dapat dideteksi dengan mudah lewat analisis secara visual dan real time. Kelebihan lainnya adalah teknologi USG dapat membantu dokter hewan untuk mengetahui status kebuntingan lebih awal.anak sapi

Diagnosis dengan test pack memang relatif lebih praktis dan terjangkau dengan harga satuan sekitar Rp 300.000,00 dengan satu paket terdiri dari 10 strip (harga satu paket berkisar 3 jutaan). Namun terdapat keterbatasan alat test pack yang hanya dapat mendeteksi kebuntingan lewat metabolit dan hanya dapat digunakan untuk sekali pakai. Di sisi lain, meskipun lebih mahal pada awal pengadaan alat, teknologi USG menawarkan hasil yang lebih valid dan dapat digunakan berkali-kali. (Tsurayya Syifa’Azmira)

Berikut adalah beberapa training terkait teknologi pencitraan pada layanan kesehatan hewan:
1a. CPD Online Diagnostik Ultrasonografi Jantung pada Anjing dan Kucing (Basic) 06 Februari 2021
1b. Workshop Diagnostik Ultrasonografi Jantung pada Hewan Kecil (Basic) 18 Maret 2021

2a. CPD Online Diagnostik Ultrasonografi Abdomen pada Hewan Kecil (Basic) 29 Mei 2021
2b. Workshop Diagnostik Ultrasonografi Abdomen pada Hewan Kecil (Basic) 03 Juli 2021

3. Pemeriksaan Fertilitas pada Sapi dengan Ultrasound (Basic) 10 – 11 Agustus 2021

4. Pemeriksaan Infertilitas pada Sapi dengan Ultrasound (Basic) 24 – 25 November 2021

 

Sumber gambar:
1. Leopold Kamp
2. Allison M.
3. pressfoto