Hubungan fumigasi dan fumigan

Fumigan dan fumigasi memiliki makna yang berbeda, tetapi keduanya masih saling berkaitan satu sama lain. Ir. H. Mohamad Rivai, Ahli Hama Gudang Alumni Departemen Proteksi Tanaman IPB University, mengatakan bahwa fumigasi merupakan suatu metode pengendalian hama dengan cara memasukkan gas racun ke suatu ruangan yang tertutup rapat. Sementara itu, fumigan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan pestisida yang mudah menguap dan biasanya digunakan untuk membasmi jasad hidup. Fumigan sendiri merupakan gas racun yang digunakan dalam proses fumigasi.

Baca juga: Mengenal Pengendalian Hama Gudang 

Jenis fumigan

Berdasarkan jenis formulanya, fumigan terdiri atas formula padat dan formula cair. Jenis fumigan yang umumnya dipakai di Indonesia di antaranya adalah gas Phospine (PH3) dan Methyl Bromide (CH3Br). Selain keduanya terdapat dua jenis fumigan lain yang turut berkembang yakni Sulfuryl Fluoride (SO2F2) dan Ethyl Formate (C3H6O2).

Gas fosfin merupakan jenis fumigan yang dipakai untuk mengontrol populasi serangga pada produk pangan, seperti biji-bijian, produk biji olahan, sereal, kacang-kacangan, biji penghasil minyak nabati, buah yang dikeringkan, tepung, pakan, dan susu bubuk. Selain itu, gas phospine (fosfin) juga dimanfaatkan untuk mengendalikan serangga pada kain katun, wool, kulit, buku, kayu hingga serangga daun tembakau pada produksi rokok.

Gas fosfin banyak digunakan dalam proses fumigasi karena 1) merupakan senyawa yang sangat toksik serta memiliki penetrasi yang baik dan seragam; 2) tidak memiliki efek aroma, warna, dan cita rasa terhadap komoditas yang difumigasi; dan 3) rendahnya penyerapan oleh produk (residu).

Sementara itu, Methyl Bromide (metil bromida) umumnya memiliki penetrasi mendalam serta bersifat cepat membunuh hama pada komoditas-komoditas yang difumigasi. Selain itu penggunaannya juga berdampak pada kerusakan lapisan ozon. Hal ini mengakibatkan pemakaiannya sangat-sangat terbatas dan hanya pada pengendalian yang sifatnya kritis atau disebut CUE (Critical Use Exemption). 

Dua bahan aktif terakhir menjadi alternatif fumigan dengan sifat yang relatif lebih ramah lingkungan (khususnya terkait ozon). Sulfuryl Fluoride (SF) dikenal sebagai subtitusi bagi fosfin, namun kini lebih banyak digunakan dalam fumigasi museum, arsip, bangunan bersejarah, peralatan medis dan laboratorium, bahan pangan kabin kapal dan kayu. Berbeda dengan fosfin, SF memiliki kelebihan yakni sifatnya yang tidak korosif (tidak menyebabkan timbulnya karat pada besi dan komponen elektonik).

Sementara itu, Ethyl Formate (EF) merupakan fumigan yang diperuntukkan bagi fumigasi pada produk segar (buah, sayuran, bunga potong), makanan olahan, buah kering (kurma, kismis), hingga peralatan produksi pada industri makanan.

Baca juga: Tahukah kamu?: Bahan Aktif Fumigasi

Teknik aplikasi fumigasi

Pada dasarnya aplikasi fumigasi dilakukan pada ruang tertutup, karenanya dalam melakukan fumigasi biasanya dibutuhkan beberapa alat bantu seperti plastik sungkup khusus serta “penindis” plastik atau yang dikenal dengan istilah sand snake. Nanti gas fumigan akan dimasukkan sesuai konsentrasi yang  dibutuhkan ke dalam sungkup yang berisi komoditas yang hendak difumigasi tersebut.

Hal lain yang penting diperhatikan adalah bahwa pada jenis fumigan yang berbeda biasanya terdapat peralatan tambahan. Sebagai contoh, jika menggunakan fumigan Sulfuryl Fluoride maka diperlukan kipas angin untuk mendistribusikan fumigan tersebut ke seluruh ruangan. Karena itu, fumigator harus dibekali pengetahuan yang cukup dalam pengaplikasian teknik fumigasi ini.

Menurut Mohamad Rivai, teknik-teknik aplikasi fumigasi harus berdasarkan SOP (Standar Operasional Prosedur) agar tidak berbeda aplikasi yang dilakukan oleh fumigator–orang yang memiliki kompetensi untuk melakukan fumigasi– yang satu dengan lainnya.

Ketentuan penggunaan fumigan

Terdapat beberapa ketentuan dalam penggunaan fumigan pada proses fumigasi. Pertama, penting bagi seorang fumigator untuk membaca ketentuan dan rekomendasi produsen yang tercantum dalam label produk fumigan. Hal tersebut mengingat kandungan bahan aktif yang berbeda-beda pada tiap produk fumigan. 

Selanjutnya, fumigator juga harus mampu menerapkan prinsip kerja yang aman sejak perencanaan hingga pemusnahan sisa fumigan. Hal ini mesti diperhatikan karena fumigan mengandung bahan aktif yang tergolong berbahaya dan beracun bagi makhluk hidup, termasuk manusia.Prinsip kerja aman ini juga mencakup penggunaan peralatan keselamatan (safety) yang sesuai dengan fumigan yang digunakan. Hal ini mengingat keteledoran dalam penggunaan alat dapat berisiko kehilangan nyawa dalam proses fumigasi.

fumigasi

 

Permasalahan fumigasi di lapangan

Pada setiap aktivitas fumigasi yang dilakukan, umumnya terdapat kendala atau permasalahan yang dialami oleh fumigator. Hal ini terjadi karena pelaksanaan metode fumigasi pasti berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketelitian dalam menghitung dosis serta ketelitian dalam persiapan teknis operasional di lapangan menjadi kunci yang harus diperhatikan. Seringkali karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan, fumigator lalai dalam kedua aspek tersebut. Padahal kelalaian pada keduanya dapat berakibat fatal pada keselamatan nyawa manusia juga dapat berdampak buruk bagi lingkungan.

Karenanya selain jam terbang, seorang fumigator harus merupakan orang yang terlatih dan menguasai keterampilan dasar dalam bidang fumigasi. Fumigator diharapkan setidaknya memahami prinsip dalam ilmu fisika, kima dan biologi (khususnya entomologi) yang berguna dalam aplikasi fumigasi. Seorang fumigator pun mesti taat asas terhadap SOP, peralatan keselamatan standar dan metode yang telah ditentukan. Fumigator sangat tidak dianjurkan untuk mencoba-coba atau trial and error yang tidak ada dasarnya karena itu akan sangat membahayakan dan dapat berakibat fatal bagi seorang fumigator. (Indri Mariska/Korpus IPB)

Tertarik mengikuti pelatihan terkait teknik fumigasi ataupun metode pengendalian hama lainnya? Kunjungi:

  1. Teknik Fumigasi dalam Pengendalian Hama Gudang (IHT PEST@) 18–20 Agustus 2021
  2. Mesin Residual Treatment: Pengenalan, Perawatan, dan Aplikasi yang Baik dan Benar 23 September 2021
  3. Teknik Fumigasi pada Moda Transportasi Laut 29-30 September 2021
  4. Entomologi Kesehatan: Pengendalian Terpadu Hama Permukiman 19-21 Oktober 2021
  5. Fogging Treatment: Pengenalan, Perawatan, dan Aplikasi yang Baik dan Benar (Batch 2) 30 Oktober 2021
  6. Teknik Fumigasi untuk Pengendalian Hama Gudang (Batch 2) 23-25 November 2021

sumber gambar:

  1. Fumida
  2. Impocare