Anjing merupakan salah satu hewan kesayangan banyak orang. Tak jarang, hewan peliharaan yang satu ini dianggap seperti keluarga sendiri bagi pemiliknya. Pemilik akan memenuhi semua kebutuhan anjing, termasuk memperhatikan kesehatannya. Salah satu aspek kesehatan yang perlu diperhatikan oleh para pemilik anjing adalah kesehatan kulit hewan peliharaannya.

Masalah kesehatan kulit anjing dipelajari detail dalam canine dermatology. Canine dermatology merupakan ilmu yang mengkaji masalah kesehatan kulit yang dialami oleh anjing. Canine dermatology tidak hanya meliputi fisiologi dan gangguan yang terjadi pada kulit anjing, tetapi juga hubungannya dengan proses patologis di jaringan tubuh lainnya.

Diagnosis umum

Umumnya, diagnosis dalam canine dermatology dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama adalah melalui informasi pasien. Informasi yang dibutuhkan meliputi umur, kelamin, dan tempat tinggal pasien. Selain itu, informasi terkait pemberian vaksin, obat kutu, dan obat cacing juga dibutuhkan untuk mendapat diagnosis secara tepat.

Kedua, diagnosa dilakukan melalui pemeriksaan langsung. Area yang terinfeksi pada hewan yang sakit akan diperiksa secara langsung oleh tenaga medis. Tahap ketiga, adalah pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan ini dilakukan dengan pengambilan sampel kulit terinfeksi ataupun sampel darah.

Baca juga: Pentingnya penanganan (handling dan restrain) pada anjing dan kucing

Penyakit kulit pada anjing

Penyakit dalam lingkup canine dermatology sangat banyak dan bervariasi. Akan tetapi, terdapat beberapa golongan gangguan kulit yang paling sering didapati oleh dokter hewan. Jenis gangguan tersebut dikelompokkan berdasarkan agen pembawa penyakit kulit, seperti bakteri, tungau, alergi, dan imunitas. Beberapa contoh penyakitnya adalah canine pyoderma, canine demodicosis, dan canine atopic dermatitis (CAD).

  1. Canine pyoderma

Canine pyoderma merupakan gangguan kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Diagnosisnya dapat dilakukan dengan melihat pada tanda-tanda klinis, mengeliminasi kemungkinan penyebab dari folikulitis, serta evaluasi sitologi terhadap isi pustula, lesi eksudatif, dan puing-puing kulit. Perawatannya pun bervariasi, tergantung pada kasus pasien. Misalnya, kasus surface pyodema dan superficial pyoderma dapat diobati dengan pemberian antibiotik topikal, sedangkan deep pyoderma membutuhkan kombinasi antibiotik oral dan topikal.

  1. Canine demodicosis

Demodicosis adalah gangguan kulit umum yang disebabkan oleh parasit kelas tungau. Gejala klinis dari gangguan demodikosis ialah kemerahan, komedo, scale, alopesi (parsial atau keseluruhan), papula, gips folikel, dan nanah. Pada kasus yang parah, dapat terjadi furunculosis, pengerasan kulit, eksudasi, dan ulserasi. Pengobatan demodikosis umum dapat diobati dengan pengobatan akarisidal. Pada kebanyakan anjing, demodikosis lokal sembuh dengan sendirinya.

  1. Canine atopic dermatitis (CAD)

Canine atopic dermatitis adalah gangguan kulit yang terjadi karena alergi terhadap zat tertentu. Alergi disebabkan oleh produksi antibodi spesifik IgE yang peka terhadap alergen lingkungan. Gejala klinis yang dapat terjadi ialah pruritus dan lesi primer. Atopic dermatitis bersifat seumur hidup. Namun, ada beragam terapi topikal dan sistemik saat ini yang berpeluang untuk pengobatan CAD, seperti alergi imunoterapi, kortikosteroid, inhibitor kalsineurin, antihistamin, dan esensial asam lemak. Sayangnya, terapi-terapi tersebut tidak efektif dalam banyak kasus. Selain itu, belum ada penelitian yang bisa menetapkan satu cara pengobatan sebagai cara penanganan CAD. Oleh karena itu, sampai saat ini para dokter masih menyarankan langkah preventif untuk meminimalisir kontak anjing dengan alergen.

Penularan penyakit kulit pada anjing

Secara umum, penyakit kulit yang terjadi pada anjing merupakan penyakit individual. Artinya, penyakit tersebut tidak dapat menular, baik pada hewan lain maupun pada manusia. Namun, beberapa agen biologis tertentu dapat menjadi perantara menularnya penyakit antara anjing dan manusia maupun sebaliknya. Agen perantara tersebut ialah jamur dan tungau. Di sisi lain, penularan penyakit tidak dapat terjadi melalui infeksi bakteri.

Baca juga: Teknologi Pencitraan pada Layanan Kesehatan Hewan

Bahaya penyakit kulit pada anjing

Keempat jenis penyakit kulit pada anjing di atas dapat berdampak pada kesehatan anjing secara keseluruhan. Gangguan-gangguan tersebut terakumulasi sehingga menyebabkan perasaan tidak nyaman dan memengaruhi tingkah laku dan nafsu makan anjing. Nafsu makan yang sudah rusak dapat menyebabkan kematian pada anjing. Menurut drh. Herisman Hernadi, Dokter Hewan praktisi yang mendalami canine dermatology, kasus paling parah ialah ketika gangguan kulit tersebut kambuh terus-menerus. Dalam hal ini, tenaga medis perlu untuk memutar otak agar gangguan tersebut dapat dikendalikan dengan tepat.

dogs

Kesehatan kulit anjing pada masa pandemi

Pandemi Covid-19 memengaruhi kehidupan masyarakat berkat penularannya yang cepat antar individu. Namun, apakah hewan peliharaan seperti anjing bisa ikut terpapar virus Covid-19? Jawabannya adalah tidak. Menurut drh. Herisman Hernadi, sampai saat ini, belum ada riset yang menyatakan bahwa Covid-19 bisa menjangkiti hewan peliharaan, khususnya anjing. Bahkan, terdapat fakta unik tentang anjing bahwa hewan spesies mamalia ini juga memiliki “corona”-nya sendiri. Akan tetapi, virus tersebut tidak menyerang organ pernapasan, tetapi organ pencernaan pada anjing.

drh. Herisman Hernadi menambahkan bahwa pandemi Covid-19 justru menambah kedekatan pemilik dengan anjing kesayangannya. Dengan berlakunya aturan work from home, pemilik dan dogy (panggilan kesayangan para pencinta anjing untuk anjing secara umum) bisa lebih sering berinteraksi sehingga memperkuat ikatan psikologis antara keduanya. Karena quality time yang lebih intens, pemilik dapat lebih memperhatikan kesehatan hewan peliharaannya secara menyeluruh, khususnya kesehatan kulitnya.

Tips menjaga kesehatan kulit anjing

drh. Herisman Hernadi memberikan enam tips yang bisa diterapkan oleh pemilik anjing supaya kulit hewan peliharaannya tetap sehat. Pertama, pastikan sang pemilik menyayangi hewan peliharaannya dengan tulus, bukan karena paksaan. Kedua, pemilik mesti peduli pada kesehatan kulit dan rambut anjing. Ketiga, rutin memberikan vaksinasi dan obat kutu kepada anjing peliharaannya. Keempat, memberikan nutrisi yang seimbang untuk anjing. Kelima, jaga kebersihan rambut dengan memandikan anjing peliharaan 10—14 hari sekali. Terakhir, pastikan anjing hidup dengan nyaman dan tidak stress. (Irnadia Fardila/Korpus IPB)

 

Yuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan klinikal dokter hewan di IPB Training, Berikut beberapa jadwal CPD terkait:

  1. CPD Online: Feline Dermatology
  2. CPD Online: Diagnostik Ultrasonografi Abdomen pada Hewan Kecil (Intermediate)
  3. CPD Online: Emergency Medicine (Basic)
  4. CPD Online: Management Front Office pada Klinik Hewan
  5. Paramedis: Skill Emergensi pada Hewan Kecil

 

Referensi: Bourguignon E, Guimarães LD, Ferreira TS, Favarato ES. 2013. Dermatology in Dogs and Cats. London: IntechOpen Limited.

Gambar: Pezibear dan Kim Hester