Mengenal biodiversitas flora dan fauna Indonesia

Biodiversitas atau yang lebih dikenal sebagai keanekaragaman hayati merupakan semua jenis flora dan fauna yang hidup di muka bumi dengan variasi habitat yang beragam. Indonesia disebut sebagai negara mega biodiversity karena memiliki keanekaragaman sangat tinggi. Berdasarkan hasil proses pembentukan daratan wilayah Indonesia serta hasil penelitian Wallace dan Weber, persebaran flora dan fauna di Indonesia dibagi ke dalam tiga wilayah yaitu Dataran Sunda, Dataran Sahul dan Daerah Peralihan (Wallace area). Dataran Sunda meliputi wilayah Jawa, Bali, Sumatra dan Kalimantan dengan jenis flora dan fauna dominan benua Asia seperti gajah, badak dan harimau. Dataran Sahul meliputi wilayah Papua dan pulau – pulau kecil disekitarnya dengan jenis flora dan fauna dominan benua Australia seperti burung cendrawasih dan kanguru. Sedangkan daerah peralihan (Wallace area) meliputi wilayah Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara dengan jenis flora dan fauna yang mendapat pengaruh baik dari benua Asia maupun Australia seperti anoa dan babi rusa.

Bekantan Borneo

Bekantan Borneo

 

Kaitan Biodiversitas dengan Masyarakat dan Lingkungan

Maraknya pertumbuhan dan pembangunan manusia turut memanfaatkan biodiversitas untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sebagai contoh adalah alih fungsi hutan untuk lahan perkebunan sawit dan kegiatan pertambangan serta aktivitas perburuan satwa dilindungi hingga pembalakan liar. Akibatnya, biodiversitas mengalami penurunan yang cukup signifikan. Padahal, biodiversitas memiliki fungsi untuk pembangunan berkelanjutan atas dasar aspek sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.

Prof. Dr. Ir. Hadi Sukadi Alikodra, MS, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University menekankan pentingnya pembangunan berwawasan lingkungan (15/3).

“Semua kegiatan yang mengubah atau membuka kawasan hutan maupun tempat yang memiliki potensi biodiversitas tinggi perlu melakukan upaya pembangunan berwawasan lingkungan. Seluruh aset biodiversitas itu milik negara dan digunakan untuk kemakmuran bangsa ini, manusia dan pembangunan berkelanjutan. Biodiversitas harus diamankan melalui pendekatan konservasi.”

Konservasi pada umumnya meliputi tiga aspek yaitu melindungi, melestarikan dan memanfaatkan. Keberadaan konservasi biodiversitas ditujukan untuk menjamin agar biodiversitas tidak rusak atau hilang dan terjaga keberlanjutannya. Konservasi biodiversitas juga berperan dalam menjamin kesejahteraan masyarakat sekitar. Artinya setiap orang diperbolehkan mengakses maupun memanfaatkan kawasan hutan, namun harus dilakukan secara bijak.

 

Konsep High Conservation Value (HCV)

High Conservation Value (HCV) adalah nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah kawasan. Hal tersebut mencakup aspek lingkungan maupun sosial, seperti habitat satwa liar, daerah resapan air atau situs arkeologi. Nilai-nilai tersebut diperhitungkan sebagai nilai yang sangat signifikan atau sangat penting secara lokal, regional atau global (Konsorsium Revisi HCV Toolkit Indonesia, 2008). Konsep HCV umumnya diterapkan oleh pihak–pihak yang berhubungan dengan kawasan biodiversitas seperti perusahaan tambang, pemilik perkebunan kelapa sawit serta masyarakat sekitar kawasan biodiversitas

Konsep HCV terdiri dari enam tipe yang melingkupi nilai-nilai keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, sosial serta budaya. Menurut Hadi, saat ini sedang diusulkan tipe ketujuh HCV yaitu terkait pengurangan karbon dioksida (CO2). Enam tipe HCV tersebut adalah (1) Keanekaragaman spesies; (2) Ekosistem dan mosaik pada level lanskap; (3) Ekosistem dan habitat; (4) Jasa ekosistem; (5) Kebutuhan masyarakat; dan (6) Nilai kultural (budaya).

Sebelum menerapkan konsep HCV harus dilakukan identifikasi kawasan biodiversitas. Aktivitas identifikasi kawasan biodiversitas dengan pendekatan HCV meliputi: (1) Pembentukan tim assessment; (2) Pengambilan data; dan (3) Konsultasi dengan stakeholder. Sementara itu dalam rangka memelihara pelaksanaan konsep HCV maka perlu dilaksanakan upaya pemantauan. Pemantauan HCV bertujuan untuk:

  1. Mendapatkan data/catatan perubahan seiring waktu terhadap komponen konservasi yang menjadi perhatian
  2. Mengetahui berbagai aktivitas manusia yang berdampak terhadap keanekaragaman hayati (biodiversitas), kemudian mengidentifikasi cara untuk mengembangkan praktek manajemen yang lebih baik

 

Manfaat menerapkan High Conservation Value (HCV)

Penerapan konsep HCV merupakan upaya sukarela (voluntary). Meski demikian terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh melalui penerapan HCV. Diantara manfaat penerapan HCV adalah meminimalisir tekanan (konflik sosial) dari masyarakat sekitar hutan atau Masyarakat Hukum Adat (MHA). Selain itu komitmen perlindungan lingkungan akan meningkatkan citra perusahaan yang pada akhirnya membuka peluang pasar global yang semakin luas. Secara internal, penerapan HCV juga akan sejalan dengan perbaikan manajemen baik dari cara pandang maupun tata laku dalam proses bisnis yang dijalankan. Hal ini akan mendukung upaya keberlanjutan usaha di masa mendatang.

Konsep High Conservation Value (HCV) menjadi penting untuk diimplementasikan karena akan menjamin keberlangsungan biodiversitas. Selain itu konsep HCV secara esensial juga mempromosikan usaha untuk menjaga alam agar tetap seimbang di tengah maraknya proses pembangunan untuk kepentingan manusia. (Indri Mariska/Koran Kampus IPB)

Ingin belajar lebih dalam tentang konservasi biodiversitas, yuk ikuti Online Course Biodiversity Flora dan Fauna High Conservation Value (HCV) 06 April 2021. Temukan pula program pelatihan bidang lingkungan dan reklamasi tambang lainnya:

  1. Online Course Teknologi Revegetasi pada Lahan Pasca Tambang 22 – 23 Juni 2021
  2. Teknik Perbaikan Kualitas Tanah pada Lahan Pasca Tambang Mineral dan Batubara 23 – 25 Juni 2021
  3. Online Course Teknik Pembibitan Tanaman Hutan untuk Rehabilitasi Lahan Pasca Tambang 29 – 30 Juni 2021
  4. Teknik Pembibitan Tanaman Hutan untuk Rehabilitasi Lahan Pasca Tambang 25 – 27 Agustus 2021
  5. Teknologi Revegetasi pada Lahan Pasca Tambang 20 – 22 Oktober 2021
  6. Pengelolaan Hidrologi pada Areal Pertambangan 22 – 24 November 2021

gambar: arun asroriRick Wallace