Mengenal lipas (kecoa)

Lipas (kecoa) merupakan serangga pengganggu atau hama (pest) yang banyak ditemukan di pemukiman, seperti di kamar mandi, dapur, dan bahkan di ruang tidur. Selain di lingkungan perumahan, lipas juga terdapat di sarana transportasi publik seperti bus, pesawat, dan kereta api.

Setidaknya terdapat tiga hal yang menjadi penyebab besarnya populasi lipas yang hidup dan tinggal di sekitar manusia. pertama, banyaknya sisa-sisa makanan manusia yang menjadi sumber makanan lipas. Kedua, tersedia sumber air untuk menjaga kelembaban dan menopang kehidupan lipas. Terakhir, ketersediaan berbagai tempat yang berpotensi menjadi lokasi persembunyian (shelter) bagi lipas.

kecoa amerika umumnya lebih besar dan berwarna gelap

Mengapa lipas (kecoa) perlu dikelola/dikendalikan?

Lipas dalam jumlah sedikit mungkin tidak akan terlalu mengganggu dan dapat ditoleransi keberadaannya. Namun jika populasi lipas hadir dalam jumlah besar tentu akan menyebabkan berbagai masalah sehingga harus segera dikendalikan. Terlebih, bagi industri yang mengedepankan layanan (hospitality) bagi pelanggan, seperti hotel restoran dan katering, kehadiran lipas (kecoa) tentu menjadi indikator higienitas.

Lipas yang sering berada di tempat kotor berpotensi sebagai sumber penyebaran penyakit (vektor), karenanya jumlah lipas harus dikendalikan. Selain itu, yang perlu diketahui lipas juga memiliki sifat regurgitasi (memuntahkan kembali makanan yang dimakan) sehingga memungkinkan untuk menularkan bakteri yang berada dalam tubuhnya.

Istilah mengendalikan tidak sama dengan memberantas yang konotasinya berarti menghabiskan semuanya tanpa tersisa satupun. Hal tersebut tentu mustahil dilakukan karena akan mengganggu rantai dan jaring makanan dalam ekosistem. Serangga ini memiliki fungsi sebagai dekomposer yang bertugas menghabiskan sisa-sisa makanan (sampah) menjadi hancur. Selain itu, lipas juga dapat bertelur dalam jumlah yang sangat banyak serta mampu bersembunyi di setiap sudut rumah.

Karena itu mindset yang digunakan dalam pengelolaan lipas adalah mengendalikan jumlah lipas sampai jumlah populasinya tidak mengganggu aktivitas. Dalam konteks ini, penting untuk dipahami, toleransi jumlah lipas tergantung pada kondisi atau preferensi setiap orang.  Meski demikian, di tempat-tempat khusus seperti rumah sakit, hotel, pesawat dan restoran berbintang lima, lipas memang harus diupayakan agar hilang dari peredaran.

Cara mengendalikan lipas (kecoa)

Dikutip dari buku “Hama Pemukiman Indonesia”, upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan pengendalian kimiawi dan non kimiawi. Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida residual maupun non-residual. Caranya adalah dengan menyemprotkan formulasi minyak dan emulsi air pada celah atau retakan. Pengendalian non kimiawi ditekankan pada upaya pencegahan, yaitu dengan memberikan pengetahuan tentang kebersihan sanitasi dan good housekeeping practices.

Berikut ini merupakan langkah-langkah pengendalian lipas atau kecoa :

  1. Langkah pertama, memahami daur hidup dan perilaku lipas.
    Lipas merupakan serangga pengganggu yang memiliki sayap, namun sebenarnya jarang digunakan terbang, kecuali jika merasakan ancaman dan gangguan. Hama ini juga sebenarnya dapat menggigit meskipun hal itu pun jarang dilakukan. Lipas termasuk hewan nokturnal karena 75% hidupnya tidur di siang hari, dan 25% untuk mencari makan dimalam hari. Lipas juga hidup di tempat yang lembab dan senang bersembunyi di sela–sela atau rongga kecil yang kotor sehingga keberadaannya sulit ditemukan.
  2. Langkah kedua, melakukan observasi terhadap populasi lipas dengan teknik surveillance.
    Teknik ini dilakukan dengan mengukur dan menghitung populasi lipas yang ada dengan terlebih dahulu mengetahui tempat–tempat persembunyiannya. Tempat persembunyian lipas yang menjadi fokus dan harus diamati adalah di tempat–tempat yang lembab serta sumber air. Jika ditemukan lebih dari 20 ekor lipas pada tempat persembunyian yang diamati tersebut artinya populasi lipas sudah sangat tinggi dan harus dikendalikan.
  3. Langkah ketiga, aplikasi pengendalian.
    Pengendalian dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa cara atau dikenal sebagai pengendalian terpadu. Pengendalian terpadu ini mengkombinasikan upaya monitoring, sanitasi serta pengendalian kimiawi. Teknik berbasis sanitasi dianggap relatif lebih murah namun membutuhkan “ketelatenan” termasuk mencegah ceceran makanan serta memperhatikan celah yang berpotensi sebagai shelter (misal: kardus yang tebal, bergerigi, dan empuk serta menambal celah – celah atau retakan). Sebagai pelengkap, akses terhadap sumber air juga perlu dibatasi (misal: bak mandi dan septic tank) khususnya pada malam hari. Sementara itu penggunaan insektisida juga dapat dipergunakan sesuai dengan keperluan, baik bahan aktif maupun bentuk formulasi.

Dewasa ini, peluang investasi dalam usaha pengendalian vektor dan hama permukiman termasuk lipas semakin berkembang seiring kesadaran masyarakat terhadap higienitas dan kesehatan. Jasa pengendalian ini dikenal dengan istilah pest controller. Selain itu, menurut penuturan Prof Dr drh. Upik Kesumawati Hadi, guru besar entomologi IPB University, bahwa di Indonesia saat ini terdapat asosiasi yaitu Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia (ASPPHAMI) yang menaungi usaha tersebut. Dalam rangka membekali tenaga teknis dan supervisor pest controller dan masyarakat umum maka diperlukan berbagai program pelatihan berkelanjutan. (Himasiera)

IPB Training menyelenggarakan berbagai program pelatihan (training) seputar pengendalian vektor dan hama permukiman serta serial entomologi kesehatan, berikut adalah jadwalnya:

  1. Online Course Pengendalian Hama Non Toksik
  2. Online Course Entomologi Kesehatan: Pengendalian Terpadu Vektor dan Reservoir Penyakit (Batch 1)
  3. Online Course Entomologi Kesehatan: Pengendalian Lipas (Kecoa) Terpadu
  4. Entomologi Kesehatan: Pengendalian Terpadu Vektor dan Reservoir Penyakit (Batch 2)
  5. Online Course Entomologi Keseharan: Pengendalian Kutu Busuk (Bedbug) Terpadu
  6. Entomologi Kesehatan: Pengendalian Terpadu Hama Permukiman
  7. Online Course Manajemen Resistensi Serangga Hama terhadap Insektisida (Batch 2)
  8. Online Course Entomologi Kesehatan: Pengendalian Lalat Terpadu

 

sumber gambar:
1. DC Scientific Pest Control
2. Defence Pest Management