Tikus sebagai hama

Dari total sekitar 5000 spesies mamalia di dunia, 40 persen di antaranya merupakan spesies hewan pengerat. Ordo rodentia ini terbagi menjadi tiga subordo, yaitu Myomorpha (tikus), Sciuromorpha (bajing), dan Hystricomorpha (landak). Dari ketiganya, rodentia yang paling sering ditemukan di sekitar kita adalah tikus.

Keberadaan tikus dapat ditemukan di seluruh daerah di Indonesia. Terdapat sekitar 200 spesies tikus di Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah. Dr Swastiko Priyambodo, pakar rodensia IPB University, menjelaskan bahwa terdapat beberapa spesies tikus yang biasa dikenal dan menjadi hama serta sumber penyakit (reservoir) bagi manusia. Beberapa diantaranya adalah tikus rumah (Rattus tanezumi), tikus pohon (Rattus tiomanicus), tikus sawah (Rattus argentiventer), tikus got (Rattus norvegicus), dan tikus ladang (Rattus exulans).

Dari kelima spesies tersebut, tiga spesies penting yang menjadi hama pada habitat yang berbeda adalah tikus rumah, tikus pohon, dan tikus sawah. Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara ketiga spesies tikus tersebut.

Pertama, tikus rumah memiliki warna rambut coklat hitam kelabu pada bagian perut, tikus pohon berwarna putih, dan tikus sawah memiliki warna putih kelabu. Kedua, tikus rumah dan tikus pohon memiliki 2+3 pasang puting susu, sedangkan tikus sawah memiliki 3+3 pasang puting. Ketiga, apabila diamati, ukuran ekor tikus rumah dan tikus pohon lebih panjang dibandingkan dengan kepala dan badannya. Sementara itu, tikus sawah memiliki ukuran ekor yang lebih pendek dibandingkan kepala dan badannya.

Baca juga: Mengenal Pengendalian Hama Gudang

Tanda keberadaan tikus

Dr Swastiko mengungkapkan bahwa keberadaan tikus dapat terindikasi dari beberapa hal yang dapat diamati. Adanya kotoran, bangkai, dan sarang tikus merupakan tanda kehadiran tikus di sekitar kita. Selain itu, kehadiran tikus juga dapat terdeteksi apabila terdapat kerusakan yang disebabkan oleh tikus, seperti bekas gigitan dan lubang pada benda di sekitar kita. Tikus mengeluarkan suara khas dalam berkomunikasi dan meninggalkan urine yang berbau menyengat. Adanya jalan tikus atau runway dengan noda di titik-titik yang dilewati oleh tikus juga merupakan salah satu indikator keberadaan hewan pengerat ini. 

Mengenali karakteristik tikus dan mengetahui tanda keberadaannya merupakan langkah awal yang penting sebelum melakukan upaya pengendalian. Sebab species yang berbeda dengan kebiasaan hidup yang juga berbeda tentu akan membutuhkan pendekatan dan perlakuan pengendalian yang pula.

rodent

Hubungan tikus dengan manusia

Tidak selamanya tikus berdampak buruk bagi manusia. Pada praktiknya banyak manfaat yang diperoleh dari keberadaan hewan pengerat ini. Tikus dapat dimanfaatkan sebagai hewan laboratorium untuk pengujian obat atau toksin hingga hewan ternak untuk pakan reptil. Meski demikian, tikus memang lebih di kenal berperan sebagai hama ataupun reservoir (binatang pembawa penyakit) bagi manusia. Tikus hama dapat merusak dan menyerang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, komoditas industri di gudang hingga permukiman.

Menurut Dr Swastiko, dari berbagai penyakit yang ditularkan oleh tikus (Rodent Borne Diseases), terdapat tiga penyakit penting yang harus diketahui. Penyakit pertama yaitu penyakit pes yang berasal dari patogen bakteri Yersinia pestis di dalam pinjal dan turut disebarkan tikus Xenopsylla cheopis (vector borne disease). Penyakit pes pada abad ke-14 menelan korban jiwa manusia paling banyak dalam sejarah pandemik global, yaitu sebanyak 200 juta orang. 

Penyakit berbahaya berikutnya adalah penyakit kencing tikus (Leptospirosis) yang ditularkan oleh bakteri Leptospira sp. Kasus leptospirosis banyak terjadi pada kondisi lingkungan dengan air tergenang, seperti saat bencana banjir melanda ataupun di lingkungan persawahan (water borne disease). Penyakit terakhir adalah penyakit hanta virus. Penyakit ini disebabkan oleh virus hanta dan ditularkan melalui udara (air borne disease) yang masuk ke paru-paru manusia dan mengganggu sistem pernapasan.

Baca juga: Pengendalian Non Toksik, Mungkinkah?

Pengendalian Hama Tikus

Keberadaan tikus dapat dicegah dan diatasi dengan beberapa cara. Pengendalian tikus pada suatu habitat dapat dilakukan melalui pendekatan pengelolaan tikus terpadu (integrated rodent management) yang dilakukan secara kontinyu dan konsisten, yaitu:

  1. Pengelolaan sanitasi dengan program pembersihan lingkungan secara rutin.
  2. Pengendalian kimiawi atau rodentisida dapat dilakukan dengan pemberian bahan kimia racun yang dapat mematikan ataupun mengganggu aktivitas tikus dalam makan, minum, kopulasi, dan reproduksi. 
  3. Pengendalian kimia juga dapat menggunakan teknik fumigasi, bahan kimia penolak, dan pemandul tikus.
  4. Menggunakan patogen tikus seperti virus, bakteri, nematoda, cacing pita, dan protozoa yang dapat menganggu proses fisiologis hingga membunuh tikus.

Tambahan model pengendalian tikus sebagai hama agro:

  1. Pengendalian fisik–mekanis dengan prinsip dasar membunuh, mengusir, dan melindungi; menggunakan pelindung tanaman atau benda (rodent barrier), alat pengusir (rodent repeller), perangkap tikus, dan berburu tikus.
  2. Pengendalian kultur teknis atau agronomis atau budi daya tanaman. Hal ini dilakukan dengan memperhatikan pemilihan jenis tanaman, mengatur pola tanam, waktu tanam, jarak tanam, tanaman perangkap, dan pengecilan ukuran lebar pematang sawah.
  3. Pengendalian hayati dengan memanfaatkan predator tikus, baik dari kelas aves, mamalia, maupun reptilia.

(Muhammad Afif)

 

JIkuti beragam training pengendalian hama di IPB Training, silakan klik tautan berikut:

  1. Online Course Serial General Pest: Tikus – Pengenalan dan Pengendalian
  2. Online Course Serial General Pest: Rayap – Pengenalan dan Pengendalian
  3. Online Course Entomologi Kesehatan: Pengendalian Terpadu Vektor dan Reservoir Penyakit
  4. Online Course Serial General Pest: Hama Gudang dan Pantri – Pengenalan dan Pengendalian
  5. Online Course Entomologi Kesehatan: Pengendalian Kutu Busuk (Bedbug) Terpadu
  6. Mesin Residual Treatment: Pengenalan, Perawatan, dan Aplikasi yang Baik dan Benar
  7. Entomologi Kesehatan: Pengendalian Terpadu Hama Permukiman
  8. Fogging Treatment: Pengenalan, Perawatan, dan Aplikasi yang Baik dan Benar (Batch 2)
  9. Online Course Manajemen Resistensi Serangga Hama terhadap Insektisida (Batch 2)
  10. Teknik Fumigasi untuk Pengendalian Hama Gudang (Batch 2)

 

Sumber gambar:

  1. Alexas_Fotos
  2. Pixabay